22 Butir Pemikiran Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Deus Caritas Est

  • Bagikan

Beberapa Pemikiran  ini diambil dari Ensiklik Deus Caritas Est -DCE (Allah adalah Kasih), dari Paus Benediktus XVI. Selanjutnya disingkat DCE. Setelah pikiran disajikan, menyusul nomor artikel, darimana dikutip.

Kasih

1. Karena Allah yang lebih dahulu mengasihi kita maka kasih bukan lagi hanya “perintah”, melainkan jawaban atas anugerah dikasihi oleh Allah yang menyambut kita (DCE art 1)

Roh dan Materi (Raga)

2. Bila manusia menghendaki hanya roh dan ingin melecehkan raga hanya sebagai warisan hewani, roh dan raga kehilangan martabatnya. Dan bila ia mengingkari roh dan dengan demikian memandang materi, tubuh sebagai satu-satunya realitas, ia juga kehilangan keagungannya (DCE art 5)

Kasih

3. Kasih merupakan keprihatinan dan perhatian bagi orang lain. Ia tak lagi mencari diri sendiri – yakni tenggelam dalam kemabukan kebahagiaan -, melainkan apa yang baik bagi yang dikasihi (DCE art 6)

4. Kasih sebagai jalan pemurnian, menghendaki keadaan defenitif dalam dua arti, yakni dalam arti eksklusivitas – “hanya orang satu ini” – dan dalam arti “untuk selamanya.” (DCE art 6)

Kasih, Eros dan Agape

5. Dalam diskusi filosofis dan teologis pembedaan Eros dan Agape seringkali dipertajam menjadi pertentangan. Yang kristiani ialah kasih yang menurun dan memberi (Agape) sedangkan tak kristiani, terutama budaya Yunani yang diwarnai kasih menaik, mengingini (Eros). Bila pertentangan ini dijalankan secara radikal, ciri khas agama kristiani dicabut dari konteks mendasar kemanusiaan dan dijadikan dunia tersendiri, yang memang dapat dianggap mengagumkan, tetapi terpotong dari keseluruhan eksistensi kemanusiaan (DCE art 7)

6. Sesungguhnya eros dan agape –  kasih menaik dan menurun – tak pernah dapat dipisahkan satu sama lain. Semakin keduanya tampil menyatu sewajarnya dalam dimensi berbeda dalam realitas kasih yang sama, semakin terwujudlah hakikat
kasih sejati (DCE art 7)

Baca Juga:  Pesan Paus Fransiskus pada Hari Orang Sakit se-Dunia ke-XXXI disertai Komentar-Komentar Seperlunya

7. Bila eros pada permulaan terutama menuntut dan pada garis menaik, pesona oleh janji besar kebahagiaan – maka dalam mendekati orang lain makin sedikit memperhatikan diri sendiri, makin menghendaki kebahagiaan orang lain, makin memperhatikannya, menganugerahkan diri, mau berada baginya. Momen agape menjadi bagiannya, kalau tidak ia gugur dan juga kehilangan hakikatnya (DCE art 7)

8. Sebaliknya manusia tak bisa hidup dalam kasih yang menurun. Ia tak dapat selalu hanya memberi, ia juga harus menerima. Barangsiapa mau menganugerahkan kasih, harus sendiri dianugerahi. Memang, manusia bisa – seperti kata Tuhan
kepada kita – menjadi sumber, dari mana arus air hidup datang (DCE art 7)

Kesaksian Yesus

9. Bila Yesus dalam perumpamaan berbicara tentang gembala, yang mencari domba yang hilang, perempuan yang mencari dirham, bapa yang menyambut anak yang hilang dan memeluknya, maka itu
semua bukan hanya kata-kata, melainkan penjelasan tentang diri-
Nya dan tindakanNya (DCE art 12)

Ekaristi, Akal Budi dan Kasih

10. Ekaristi melibatkan kita dalam tindakan penyerahan diri Yesus. Bila dunia kuno bermimpi bahwa makanan manusia sesungguhnya – apa yang menghidupinya sebagai manusia – adalah logos, akal budi abadi; Kini Logos ini sungguh menjadi santapan bagi kita – sebagai kasih. (DCE art 13)

11. Persatuan dengan Kristus sekaligus adalah persatuan dengan semua lainnya, yang dianugerahi diriNya. Aku tak dapat mempunyai Kristus hanya bagi diriku, aku dapat menjadi miliknya hanya dalam persekutuan dengan semua, yang menjadi milik-Nya atau mau menjadi milik-Nya. Komuni mencabut aku dari diriku kepada-Nya dan dengan itu sekaligus kepada persatuan dengan semua orang kristiani. Kita menjadi “satu tubuh”, eksistensi yang terlebur menjadi satu. Kasih akan Allah dan akan sesama menyatu: Allah yang menjadi manusia menarik kita semua kepada diri-Nya (DCE art 14)

Baca Juga:  20 Ungkapan Paus Benediktus XVI tentang Kasih dan Kebenaran

12. Setiap orang, yang membutuhkan
aku dan kubantu, adalah sesamaku (DCE art 15)

13. Allah tidak memerintahkan perasaan, yang tidak bisa kita hasilkan. Ia mengasihi kita, menunjukkan kasih-Nya yang kita rasakan, dan dari “lebih dahulu” kasih Allah ini dapatlah dalam diri kita bersemi kasih sebagai jawaban (DCE art 17)

Kasih, Kekuatan dan Gembira

14. Kasih yang matang melibatkan semua kekuatan manusia, mengintegrasikan manusia dalam keseluruhannya. Pertemuan dengan penampakan kasih Allah dapat membangkitkan dalam diri kita rasa gembira, yang berasal dari pengalaman dikasihi (DCE art 17)

Pengetahuan, Akal Budi, Kehendak dan Kasih

15. Pengetahuan tentang Allah yang hidup adalah jalan kasih, dan persetujuan kehendak kita terhadap kehendakNya mempersatukan akal budi, kehendak dan perasaan menjadi tindakan kasih seutuhnya (DCE art 17)

Sentuhan Kasih Allah

16. Bila sentuhan dengan Allah sama sekali tak ada dalam hatiku, maka dalam orang lain aku selalu hanya dapat melihat orang lain dan tak dapat mengenal gambaran ilahi dalam dirinya (DCE art 18)

17. Bila aku menyingkirkan perhatian kepada sesama dari hidupku sama sekali dan hanya mau “saleh”, melakukan “kewajiban-kewajiban religiusku” maka juga hubungan dengan Allah mengering (DCE art 18)

18. Hanya kesediaanku menghampiri sesama, menunjukkan kasih kepadanya, juga membuat aku peka terhadap Allah. Hanya pelayanan kepada sesama membuka mataku akan apa yang dilakukan Allah bagiku dan bagaimana ia mengasihi aku (DCE art 18)

Baca Juga:  Mengapa Imam Katolik Dilarang Berpolitik?

Negara-Gereja, Politik-Iman

19. Negara tak boleh memerintah agama, melainkan harus menjamin kebebasan dan kerukunan antaragama penganut pelbagai agama: Gereja sebagai ungkapan sosial iman kristiani pada gilirannya
mempunyai kemerdekaannya dan dari iman menghayati bentuk persekutuannya yang harus dihormati negara. Kedua lingkup itu berbeda, tetapi terarah kepada satu sama lain (DCE art 28)

20. Keadilan adalah tujuan dan karena itu juga merupakan tolok
ukur segala politik. Politik itu lebih daripada teknik penataan ruang publik: Asal dan tujuannya adalah keadilan, dan ini bersifat etis (DCE art 28)

21. Karena merupakan tugas politik, maka tak dapat merupakan tugas langsung Gereja. Namun karena sekaligus merupakan tugas kemanusiaan asasi, maka Gereja
mempunyai kewajiban, dengan caranya sendiri dengan pemurnian akal budi dan pembentukan etis memberikan sumbangannya, agar tuntutan keadilan menjadi mudah
dipahami dan diwujudkan secara politis (DCE art 28)

22. Gereja tak dapat dan tak boleh merampas perjuangan politis, untuk mewujudkan masyarakat yang sebisa-bisanya adil. Ia tak dapat dan tak boleh menggantikan negara. Namun ia dapat dan tak boleh dalam menggumuli keadilan bersikap acuh tak acuh. Ia harus dengan berargumentasi berperanserta dalam pergumulan akal budi, dan ia harus membangkitkan kekuatan jiwa yang perlu agar keadilan yang juga menuntut pantang, diwujudkan. Masyarakat adil tak dapat merupakan karya Gereja, melainkan harus diciptakan politik. Namun bergumul mengenai keadilan dengan membuka pengetahuan dan kemauan bagi tuntutan apa yang baik sungguh menyangkut dirinya (DCE art 28)

***lopontt.com***

oleh

RD. Yudel Neno

  • Bagikan