40 Butir Pemikiran Paus Benediktus XVI Dalam Ensiklik Spe Salvi

  • Bagikan

Butir-butir pemikiran ini diambil dari Ensiklik Spe Salvi (Harapan yang Menyelamatkan), Paus Benediktus XV, 30 November 2007. Selanjutnya disingkat SS lalu nomor artikel.

Injil, Informatif dan Performatif

1. Kabar Kristiani bukanlah hanya informatif saja, melainkan juga performatif. Artinya Injil bukan hanya pemberitahuan hal-hal yang dapat diketahui, melainkan pemberitahuan yang mendatangkan kenyataan dan mengubah kehidupan ( SS art 2)

Iman dan Masa Depan

2. Iman menarik masa depan memasuki masa kini. Sehingga masa kini bukan lagi sekedar belum (SS art 7)

3. Sebab dalam iman, mereka melihat kunci kepada kehidupan kekal (SS art 10)

Hidup Kekal Hukuman dan Anugerah

4. Mereka yang menolak kehidupan kekal, dan melihatnya sebagai penghalang, rupanya lebih melihat bahwa meneruskan hidup untuk selamanya – tanpa akhir – lebih dilihat sebagai hukuman dan bukan sebagai anugerah (SS art 10)

Sikap Terbuka dan Kasih

5. Kita perlu meninggalkan penjara “ego” pribadi kita sebab hanya lewat keterbukaan subjek universal, pandangan kita terbuka terhadap sumber kegembiraan, terhadap kasih itu sendiri – kepada Allah (SS art 14)

Iman dan Kemajuan

6. Kemajuan terutama dikaitkan dengan meningkatkan kekuasaan akal budi, dengan sendirinya dipandang sebagai kekuatan dari kebaikan untuk kebaikan. Kemajuan adalah kemenangan atas segala bentuk ketergantungan sebab kemajuan menuju kepada kebebasan sempurna (SS art 18)

7. Tidak diragukan bahwa kemajuan memang menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru demi kebaikan, namun juga membuka kemungkinan-kemungkinan mengerikan untuk kejahatan, yang belum pernah ada sebelumnya. Kita semua menyaksikan bagaimana kemajuan, di tangan-tangan yang salah, dapat dan sungguh telah menjadi kemajuan kejahatan yang mengerikan (SS art 22)

8. Apabila kemajuan teknik tidak bersesuaian dengan kemajuan dalam pembentukan moral manusia, “dalam pertumbuhan batin manusia, maka itu bukanlah kemajuan sama sekali, melainkan suatu ancaman bagi manusia dan dunia (SS art 22)

Akal Budi Kehendak dan Kemajuan

9. Apabila kemajuan, agar sungguh merupakan kemajuan, membutuhkan pertumbuhan moral umat manusia, maka akal budi yang menguasai dan bertindak juga sangat perlu dilengkapi melalui keterbukaan akal budi terhadap kekuatan iman yang menyelamatkan, untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat. Hanya dengan demikian akal budi benar- benar menjadi manusiawi. Akal budi hanya sungguh manusiawi apabila dapat menunjukkan jalan kepada kehendak, dan itu hanya mungkin apabila akal budi itu mampu mengatasi dirinya sendiri (SS art 23)

Ketidakseimbangan dan Suara Hati

10. Kondisi manusia yang berada dalam ketidakseimbangan antara kemampuan materiil dan hilangnya daya keputusan suara hati, menjadi ancaman bagi manusia dan ciptaan (SS art 23)

Manusia dan Kebebasan

11. Kondisi manusia yang berada dalam ketidakseimbangan antara kemampuan materiil dan hilangnya
daya keputusan suara hati, menjadi ancaman bagi manusia dan ciptaan. Demikianlah, ketika berbicara tentang kebebasan, harus diingat bahwa kebebasan manusia selalu menuntut kebebasan satu sama lain. Namun, hubungan satu sama lain itu tidak dapat berhasil, apabila tidak ditentukan dengan suatu norma ukuran intrinsik bersama, sebagai landasan dan tujuan kebebasan kita (SS art 23)

Baca Juga:  20 Ungkapan Paus Benediktus XVI tentang Kasih dan Kebenaran

12. Manusia membutuhkan Allah, apabila tidak, ia tetap tanpa harapan (SS art 23).

13. Kebebasan menuntut bahwa dalam hal keputusan-keputusan mendasar setiap orang dan setiap generasi adalah suatu permulaan baru (SS art 24)

14. Keadaan hal-hal manusiawi yang benar, kesejahteraan moral dunia, tak pernah dapat hanya dijamin dengan struktur-struktur saja, betapa pun baiknya itu. Struktur-struktur itu bukan hanya penting, melainkan dibutuhkan, namun tidak dapat dan tidak boleh menghilangkan kebebasan manusia (SS art 24)

15. Kebebasan membutuhkan keyakinan. Keyakinan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus selalu diusahakan lagi secara bersama (SS art 24)

16. Karena manusia selalu bebas dan kebebasannya itu selalu rapuh, maka kerajaan kebaikan tidak mungkin didirikan secara definitif di dunia ini. Barangsiapa menjanjikan dunia yang lebih baik dan dijamin bertahan selamanya, membuat janji palsu sebab ia menyangkal kebebasan manusia (SS art 24)

Pengetahuan dan Kasih

17. Bukan ilmu pengetahuanlah yang menyelamatkan manusia. Manusia diselamatkan oleh kasih. Ini bahkan berlaku di tataran yang melulu duniawi. Apabila seseorang dalam hidupnya mengalami kasih yang besar, maka itulah saat “penyelamatan” yang memberikan makna baru bagi hidupnya (SS art 26)

Hubungan dengan Allah

18. Bahwa siapa pun yang tidak mengenal Allah, meskipun memiliki banyak aneka harapan, pada dasarnya tidak mempunyai harapan, tanpa harapan besar yang menopang seluruh hidupnya (SS art 27)

19. Dalam arti sebenarnya, hidup bukan hanya dimiliki di dalam atau dari diri sendiri saja. Hidup adalah suatu hubungan. Dan hidup dalam keseluruhannya adalah hubungan dengan Dia, yang adalah sumber hidup. Bila kita berada dalam hubungan dengan Dia, yang tidak mati, yang adalah Hidup itu sendiri dan adalah Kasih itu sendiri, maka kita berada dalam kehidupan. Maka, kita “hidup” (SS art 27)

20. Hubungan dengan Allah ditetapkan melalui persekutuan dengan Yesus, sebab sendirian dan hanya dengan kemampuan sendiri kita tidak dapat mencapainya (SS art 28)

21. Berada dalam persekutuan dengan Yesus Kristus berarti juga menarik kita ke dalam “keberadaanNya bagi semua orang”; itulah sebenarnya hakikat keberadaan kita (SS art 28)

Dunia dan Kebebasan

22. Sebab dunia tanpa kebebasan tidak mungkin merupakan dunia yang baik (SS art 30)

Harapan

23. KerajaanNya hadir di mana pun Ia dikasihi dan di mana pun kasihNya menjangkau kita. Hanya kasihNyalah yang setiap hari memberi kita kemampuan untuk bertahan dalam segala kesederhanaan, tanpa kehilangan dorongan harapan di dunia ini, yang menurut hakikatnya memang tidak sempurna (SS art 31)

Baca Juga:  Pesan Paus Fransiskus pada Hari Orang Sakit se-Dunia ke-XXXI disertai Komentar-Komentar Seperlunya

24. Tempat mendasar pertama untuk belajar berpengharapan ialah doa (SS art 32)

Cara Berdoa dengan Pemurnian Bathin

25. Cara berdoa yang benar adalah suatu proses pemurnian batin yang membuat kita terbuka pada Allah, dan dengan demikian pada sesama manusia kita juga. Di dalam doa manusia harus belajar apa yang sungguh-sungguh dapat ia mohon pada Allah, yakni apa yang layak bagi Allah. Ia harus belajar bahwa ia tidak dapat berdoa melawan orang lain. Ia harus belajar bahwa ia tidak boleh mohon hal-hal yang sepele dan mengenakkan yang diinginkannya saat ini, – suatu pengharapan kecil palsu, yang menjauhkannya dari Allah. Ia harus memurnikan kerinduan dan pengharapannya (SS art 33)

Ada Tidaknya Allah

26. Jika Allah tidak ada, barangkali harus melarikan diri dalam kebohongan-kebohongan semacam itu, karena tidak seorang pun dapat mengampuni, tiada seorang pun menjadi ukuran sejati (SS art 33)

Harapan

27. Harapan adalah aktif juga dalam arti bahwa kita menjaga dunia terbuka bagi Allah. Hanya dengan demikian harapan itu sungguh-sungguh harapan manusiawi (SS art 34)

Penderitaan Kebenaran Keadilan dan Belas Kasih

28. Memang segalanya harus diusahakan guna mengatasi penderitaan, tetapi kita tidak mampu menghilangkannya dari dunia ini. Dan ini memang tidak mungkin, karena kita tidak dapat menghilangkan keterbatasan kita, dan karena tiada seorang pun dari kita mampu menghilangkan kekuatan kejahatan, dosa yang, seperti yang kita lihat dengan jelas, adalah sumber penderitaan (SS art 36)

29. Ketika manusia bermaksud menghindari penderitaan dengan menghindar dari apa pun yang bisa menimbulkan rasa sakit, ketika berusaha menjauhkan diri dari kesulitan dan penderitaan kebenaran, kasih dan kebaikan, maka ia memasuki suatu hidup yang kosong, di mana mungkin memang
tidak dirasakan adanya penderitaan, tetapi perasaan gelap tanpa makna dan ditinggalkan menjadi semakin besar (SS art 37)

30. Ukuran kemanusiaan sejati pada hakikatnya ditentukan oleh hubungan antara penderitaan dan orang yang menderita. Ini berlaku baik untuk perorangan maupun untuk masyarakat. Suatu masyarakat yang tidak mau menerima warganya yang menderita maupun menolong untuk berbagi dalam penderitaan mereka dan ikut menanggung penderitaan dari dalam melalui “belas kasih”, adalah suatu masyarakat yang kejam dan tidak
berperikemanusiaan (SS art 38)

31. Sebab apabila kemakmuran dan keselamatanku lebih penting daripada kebenaran dan keadilan, maka kekuasaan yang lebih kuatlah yang berkuasa, dan kekerasan dan penipuanlah yang merajalela. Kebenaran dan keadilan harus berada lebih tinggi dari pada kenyamanan dan kesejahteraan fisikku, sebab apabila tidak demikian hidup kita sendiri merupakan penipuan (SS art 38)

Baca Juga:  22 Butir Pemikiran Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Deus Caritas Est

32. Menderita bersama orang lain, untuk orang lain; menderita demi kebenaran dan keadilan; menderita karena kasih dan agar menjadi seorang pribadi yang sungguh mengasihi – itulah unsur-unsur fundamental kemanusiaan, yang apabila diabaikan akan menghancurkan manusia sendiri (SS art 39)

Iman dan Masa Depan

33. Iman akan Kristus tidak pernah hanya terarah ke masa lampau atau hanya ke atas, melainkan juga selalu ke masa depan, ke arah saat keadilan, yang telah berkali-kali dinyatakan oleh Tuhan ( SS art 41)

Allah Adil Iman Pasti

34. Protes melawan Allah demi keadilan tidak banyak gunanya. Suatu dunia tanpa Allah merupakan dunia tanpa harapan. Allah dapat menciptakan keadilan. Dan iman memberi kita kepastian, bahwa Ia pasti melaksanakannya (SS art 44)

35. Keadilan dan rahmat harus dilihat dalam hubungan batin mereka yang benar. Rahmat tidak menghapuskan keadilan. Rahmat tidak mengubah yang salah menjadi benar. Tidak seperti spons (karet busa) yang membersihkan segalanya, sehingga apa pun yang dilakukan seseorang di dunia ini mempunyai nilai yang sama (SS art 44)

Kesediaan Akan Kasih

36. Ada orang-orang yang dalam dirinya telah menghancurkan sama sekali keinginan akan kebenaran dan kesediaan akan kasih. Dalam diri mereka itu segalanya adalah kebohongan. Mereka hidup penuh kebencian dan menekan kasih di dalam dirinya sendiri ( SS art 45)

Api Penyucian

37. Agar diselamatkan orang harus melewati “api” sehingga akhirnya mampu menjadi milik Allah dan mengambil tempat di meja perjamuan perkawinan abadi (SS art 46)

38. Namun, jiwa-jiwa orang-orang yang telah meninggal dapat menerima “penyegaran dan penyejukkan” lewat Ekaristi, doa dan derma. Kepercayaan bahwa kasih dapat menjangkau sampai di masa sesudah kematian, dan bahwa saling memberi dan menerima adalah mungkin, yakni di mana kita dengan ikatan kasih tetap terhubung satu sama lain melampaui batas-batas kematian, adalah suatu keyakinan dasar umat Kristiani sepanjang segala abad dan tetap merupakan pengalaman penghiburan sekarang ini juga (SS art 48)

Kelahiran di Betlehem

39. Pada waktu kelahiranNya di kandang Betlehem, bersinarlah cahaya para malaikat, yang mewartakan kabar gembira kepada gembala-gembala, namun sekaligus kemiskinan Allah di dunia ini bisa tampak begitu jelas (SS art 50)

Bunda Maria

40. Di Kayu Salib, berkat kekuatan kata Yesus sendiri, engkau menjadi Ibu semua orang beriman. Dalam iman ini, yang bahkan juga dalam kegelapan Sabtu Suci melahirkan kepastian akan harapan, engkau tetap menempuhnya hingga mencapai pagi hari paskah (SS art 50).

***LopoNTT.com***

                   RD. Yudel Neno

  • Bagikan