Menyeduh Rasa Bercampur Aduk Ketika di RSUD Kefamenanu

  • Bagikan

Berjalan dari lorong ke lorong, saya perhatikan secara saksama. Para petugas beraktivitas tinggi. Ada yang mengantar makan untuk para pasien. Ada yang antar obat. Ada yang datang kunjung, dan ada yang pergi. Para dokter dari ruangan ke ruangan, kontrol pasien. Jika tersenyum, pertanda baik. Jika serius, pertanda ada yang kritis.

Para perawat berpindah-pindah ruang sambil membawa alat tensi darah, tes HB, kolestrol, asam urat. Disertai catatan administrasi beralaskan papan, sambil mengenakan masker, kata-kata peneguhan, kuatkan hati dan semoga cepat sembuh selalu terucap.

Seraya perhatikan situasi para petugas dan para pasien, di sebelah ruangan persis saya ada, ada yang melepas tangis sedih; seolah tak rela melepaskan salah satu keluarga, yang telah usai dalam pergumulan nafas terakhirnya.

Isak tangis tersedu-sedu, terdengar dari suara sang cilik hingga suara dewasa. Isak tangis pertanda sedih, seolah tak mungkin, dan bahkan tak menerima kenyataan duka. Ada yang histeris. Dan itu tanda tertinggi belum siap melepas.

Seraya membayangkan situasi seperti itu, rasa saya tak sanggup kalau setiap hari di Rumah Sakit, dan harus berhadapan dengan rasa dan situasi yang berbeda, namun harus terjadi pada waktu yang terus sama.

Para petugas kesehatan, mereka luar biasa. Mereka memiliki daya tahan yang tak biasa. Meraka selalu berhadapan dengan situasi sedih. Air mata mereka gugur berulang kali. Tak peduli, keluarga atau tidak. Intinya ialah setiap pasien yang ditangani, ialah keluarga, sehingga tak heran, isak tangis keluarga duka, mereka jadikan sebagai bagian dari rasa kehilangan.

Pada ujung dari ruangan-ruangan itu, di sana tertulis ruang jenazah. Bagi mereka yang melintas dan tak ada urusan, ruang itu biasa saja. Namun bagi mereka yang mengalami situasi hilang, ruangan itu menjadi tempat tumpah ruahnya air mata, akibat isak tangis kerumunan keluarga.

Sambil jenazah itu didorong menuju ruang jenazah oleh petugas, isak tangis menjemput di gerbang keluar. Mereka berame-rame melepas tangis, tanpa peduli siapa kata apa. Sedih, ialah daya dorong yang membuat seorang mampu melepas rasa tanpa hitung-hitungan.

Seraya menatap ke sudut jendela, saya perhatikan beberapa keluarga pasien membereskan administrasi finish pasca sembuh.

Melintas pada beberapa lorong dengan pintu terbuka, nasehat dan arahan dokter sementara berlangsung untuk beberapa pasien.

Beberapa pasien yang sementara menikmati makan siang, berupaya mengucapkan selamat makan buat para petugas dan para penjaga.

Beberapa pasien yang kondisinya menurun drastis, nampak raut muka malu-malu ketika disuap. Namun daya juang mereka luar biasa. Mereka tak lupa doa saat makan.

Beberapa yang sudah pulih, nampak raut wajah gembira, terkesan inginkan instruksi dokter, biar cepat pulang jumpa keluarga, pasca beberapa lama di rumah sakit.

Hal menarik terpapar dalam situasi perjumpaan antara para pengunjung. Dengan rasa tak malu, ada tanya dan jawab; kunjung siapa, dan siapa sakit. Namun satu yang pasti dan sama ibadah refrein lagu ialah semoga cepat sembuh.

Saya perhatikan, psiko hiburan cerita ada di sana. Para pasien selalu diajak bercerita pada waktu yang tepat. Mereka bahkan diajak tertawa, seolah-olah semenit kemudian, kesembuhan itu akan datang.

Selain obat medis, beberapa pasien dianjurkan dokter untuk membeli buah-buahan berkhasiat memperlancar dan bahkan menyembuhkan.

Kesukaan pasien terhadap makanan dan minuman tertentu selalu diupayakan, sejauh tidak mengganggu kesehatan pasca konsul dengan dokter.

Dari sudut ruangan saya mendengar suara halus petugas, bertanya; Nenek su makan ko, belum. Suatu ekspresi rasa, bahwa orang sakit, tidak hanya butuh makan, namun mereka juga butuh peneguhan entah melalui anjuran maupun pertanyaan. Dan tak heran, tanya spontan seperti itu, banyak kali mengandung spirit, mendorong rasa berani untuk makan, biar kuat daya tahan tubuh.

Pokoknya kali ini, Saya bercerita banyak. Mumpung Saya di Rumah Sakit.

Penulis : RD. Yudel Neno

  • Bagikan