Pagi yang Berupa-rupa di Pusaran Kaubele Pepermen

  • Bagikan
RD. Yudel Neno, Pastor Pembantu di Paroki Santa Filomena Mena Keuskupan Atambua

Matahari persis baru terbit dari ufuk timur. Sambil menyaksikan para pegawai buru-buru ke kantor, saya perhatikan pria bercelana pendek duduk santai mengikis sebatang besi dengan alat gurinda. Di sebelah kanan saya, sedang asyik beberapa orang bersenda gurau sambil menanti giliran potong rambut.

Pagi ini, pagi yang menarik. Sambil meneguk segelas kopi panas, penghilang kantuk tidur semalam, fakta menarik pula terpancar dari wajah para petani sawah, dengan langkah pasti, memikul kotak semprot berisi pupuk menuju sawah. Itulah keseharian para petani Kaubele.

Pada sebuah bengkel langganan para pemilik traktor, berjejer besi-besi kecil butuh pembenahan. Menyaksikan kesetiaan tuannya menunggu menyisakan harapan segera, agar lahan cepat diolah.

Baca Juga:  Kenangkan Ingat Lupakan Jangan

Sambil menyaksikan orang-orang beres-beres dan bersih-bersih diri di saluran air sawah, seorang nenek memegang tajak ciliknya menuju kebun sambil tak lupa menyapa orang-orang sekitar; selamat pagi. Luar biasa, etiket menyapa masih terjaga baik di tengah gesa-gesanya menuju lahan kerja.

Ada yang duduk sebentar sambil lalu, dan segera pamit merawat ternak yang sedang sakit.

Bunyi gurinda melengking bergantian dengan percikan api las mempersiapkan tenda jadi buat acara ramah masyarakat sekitar. Luar biasa. Masyarakat Desa ini, Masyarakat yang fokus dengan dunia kerja.

Baca Juga:  Kenangkan Ingat Lupakan Jangan

Di tengah riuhnya bunyi sepeda motor antar penumpang, terdengar salam-salaman dari mereka ketika berpapasan, sambil tanya-menanya; sudah berapa orang, dan dapat berapa.

Kopi segelas, rasanya setahun selesainya. Nikmatnya bercampur aduk tatkala mendengar musik ibu dapur menyiapkan makan pagi buat suaminya.

Bunyi klakson terdengar menyiang, setiap melintas sepeda motor, pertanda adanya rasa saling kenal, tegur-sapa. Itulah rupa-rupa cara, ekspresikan rasa saudara.

Tak terhitung jumlah sepeda motor yang beranjak keluar dari rumah, dengan perlengkapan dan arah yang berbeda-beda. Yang pasti, di tempat tujuan mereka, ada urusan penting.

Baca Juga:  Kenangkan Ingat Lupakan Jangan

Sambil bersenda gurau, sebuah mobil pick up, pengangkut besi tua, melintas di pinggiran jalan, dengan kecepatan rata-rata, memusingkan kepala, karena ributnya onderdil lebih kuat dari musik yang diputarnya.

Para cilik pun tak kalah dalam persaingan teknik memainkan lato-lato dengan niat menunjukkan jago pada siapa yang paling lama memainkannya.

Pekikkan ik…ik…ik…pertanda penjual ikan melintas. Itukan pekikan khas yang akrab di telinga orang-orang Kaubele.

Inilah pagi yang berupa-rupa ala orang Kaubele Pepermen is bom-bom bidada do..

  • Bagikan