Pesan Paus Fransiskus pada Hari Orang Sakit se-Dunia ke-XXXI disertai Komentar-Komentar Seperlunya

  • Bagikan

Perhatian Gereja terhadap mereka yang sakit tak pernah luntur. Sebagai wujud perhatian global, Paus Fransiskus mengeluarkan surat berisi pesan dan ajakan yang ditujukan kepada semua umat Kristiani untuk memberi perhatian dan mengambil tindakan nyata sebagai ekspresi belas kasih kepada mereka yang menderita sakit.

Ungkapan hati Paus Fransiskus itu termakhtub dalam Surat Pastoral Hari Orang Sakit Sedunia ke-31 dengan tema “Rawatlah Dia” Belas Kasih sebagai Reksa Penyembuhan Sinodal. Surat ini dikeluarkan Paus Fransiskus 10 Januari 2023.

Dalam surat ini, Paus Fransiskus mengutarakan keprihatinan Gereja yang sangat kepada mereka yang sakit sambil mengajak umat Kristiani untuk memberi perhatian khusus kepada mereka yang sakit.

Menurut Paus Fransiskus, sakit merupakan bagian dari kondisi manusiawi yang tidak dapat dihindari. Siapapun dia, selama ia manusia, baginya tak terhindarkan rasa sakit.

Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik itu memberi peringatan keras bahwa orang-orang Katolik akan menjadi tidak manusiawi jika membiarkan kondisi sakit hanya menjadi tanggungan mereka sendiri dalam kesendirian. Sikap tidak manusiawi itu disebutnya terjadi karena minimnya perhatian dan belas kasih kepada mereka yang sakit.

Paus menyebut bahwa seringkali kita tidak sadar akan kerentanan manusiawi kita. Akibatnya, penyakit mudah masuk melalui kerapuhan kita. Tuntutan budaya efisiensi seringkali membuat kita menyembunyikan kerapuhan kita. Dalam konsisi seperti ini, kekuatan kejahatan mendadak masuk, dan kita terkesiap tanpa mengambil langkah apapun

Paus Fransiskus mengajak kita untuk mengambil tindakan nyata dalam rangka Hari Orang Sakit se-Dunia yang bakal dirayakan pada 11 Februari 2023 mendatang. Waktu khusus ini disediakan dengan penekanannya tidak sekedar pada unsur tempus melainkan dalam tempus itu, setiap umat Kristiani didorong untuk memberi perhatian kepada mereka yang sakit dengan mengambil langkah nyata yang dapat menunjukkan tindakan perawatan.

Pesan akhir dari Paus Fransiskus dari kisah Orang Samaria ialah hikmah tentang bagaimana gerak persaudaraan dimulai dari perjumpaan tatap muka dan diperluas menjadi perawatan yang terorganisir

Tindakan nyata itu pertama-tama diambil dengan menempatkan mereka yang sakit sebagai rekan yang membutuhkan kehadiran kita dalam perjalanan bersama. Mereka adalah rekan seperjalanan. Dalam semangat semangat rekan seperjalanan, kita sebetulnya berada dalam pengalaman kerapuhan, yang menuntun kita untuk segera masuk dalam perjalanan menurut gaya Allah. Dalam gaya Allah berjalan, semangat komunitas ditanamkan dalam diri kita untuk melawan budaya penyingkiran, yang seringkali tumbuh subur di tengah kita hidup bersama. Gaya Allah berjalan itu disebut Paus Fransiskus sebagai kedekatan, belas kasih dan kelembutan. Hal ini penting karena menurut Paus Fransiskus, seringkali budaya penyingkiran membuat kita tak peduli dengan mereka yang sakit, sambil menganggap melimpahkan urusan bahwa mereka yang sakit menjadi urusan mereka sendiri.

Menurut Paus Fransiskus, panggilan untuk memperhatikan mereka yang sakit merupakan suatu panggilan menghentikan ketidakpedulian dan memperlambat langkah mereka yang berjalan sendirian seolah-olah tidak memiliki saudari dan saudara

Paus Fransiskus dengan merujuk pada Ensiklik Frateli Tutti, mengajak kita untuk belajar dari Orang Samaria yang baik hati. Dia menjadi unggul dari dua orang sebelumnya, yang melintas begitu saja tanpa peduli terhadap orang yang mengalami derita di depan mata. Tindakan Orang Samaria itu disebutnya dengan analgi peralihan dari “awan gelap” yang tertutup ke “mimpi dan penciptaan dunia yang terbuka” . Awan gelap itu digambarkan sebagai suatu situasi di mana, seringkali kita menolak persaudaraan dengan berbagai macam cara. Sementara dunia yang terbuka itu digambarkan sebagai suatu panggilan segera untuk melakukan pertolongan kepada mereka yang menderita.

Baca Juga:  Uskup Atambua Resmi Larang Acara Helketa

Semangat memberi pertolongan kepada mereka yang menderita perlu dimurnikan dengan pengenalan dan pemahaman yang utuh terhadap kondisi kesendirian dan penelantaran. Ini penting mengingat bahwa kondisi kesendirian dan penelantaran itu seringkali terjadi karena serangan praktek ketidakadilan dan kekerasan.

Dari kisah tentang Orang Samaria yang baik hati, dua orang lainnya itu melintas begitu saja dari saudara yang menderita. Sementara Orang Samaria itu menampilkan suatu sikap yang menjadikan dunia lebih bersaudara karena ia mengambil tindakan untuk menolong orang yang menderita di hadapannya.

Menurut Paus Fransiskus, sakit merupakan bagian dari kondisi manusiawi yang tidak dapat dihindari. Siapapun dia, selama ia manusia, baginya tak terhindarkan rasa sakit

Paus menyebut bahwa seringkali kita tidak sadar akan kerentanan manusiawi kita. Akibatnya, penyakit mudah masuk melalui kerapuhan kita. Tuntutan budaya efisiensi seringkali membuat kita menyembunyikan kerapuhan kita. Dalam kondisi seperti ini, kekuatan jahat seringkali mendadak masuk, dan kita terkesiap seolah-olah kehilangan akal untuk mengambil langkah apapun. Hal ini makin parah kalau kita sebagai penderita ditinggalkan begitu saja, ataupun mereka yang terkena derita, kita ditinggalkan begitu saja. Bahayanya ialah ketika dalam situasi ketertinggalan macam itu, kita merasa (baca : mereka yang menderita) seolah-olah ditinggalkan Tuhan. Situasi ini disebut Paus Fransiskus sebagai suatu kesepian.

Baca Juga:  IKKAT Selenggarakan Temu Konsolidasi Menjelang Temu Akbar

Mengatasi kesepian semacam itu, sambil mengambil hikmah dari Orang Samaria, Paus Fransiskus menegaskan tentang pentingnya Gereja perlu mempertimbangkan diri sebagai “Rumah Sakit Lapangan”, yang dengannya ciri khas terbuka untuk diakses dan arah melayani tanpa pilih kasih, dapat ditampakkan.

Menurut Paus Fransiskus, panggilan untuk memperhatikan mereka yang sakit merupakan suatu panggilan menghentikan ketidakpedulian dan memperlambat langkah mereka yang berjalan sendirian seolah-olah tidak memiliki saudari dan saudara.

Paus menyebut bahwa seringkali kita tidak sadar akan kerentanan manusiawi kita. Akibatnya, penyakit mudah masuk melalui kerapuhan kita. Tuntutan budaya efisiensi seringkali membuat kita menyembunyikan kerapuhan kita. Dalam konsisi seperti ini, kekuatan kejahatan mendadak masuk, dan kita terkesiap tanpa mengambil langkah apapun

Bapa Suci mengajak kita untuk berdoa dengan arah spiritual lebih dekat kepada mereka yang menderita. Khususnya lembaga-lembaga kesehatan, diperlukan adanya suatu kesadaran dengan cara baru untuk maju bersama. Prioritas ini ditekankan Paus Fransiskus dengan mempedomani kritik Nabi Yehezkiel  atas prioritas hedonisme pelayanan yang tidak menggembalakan domba-domba tetapi lebih memilih mengeruk keuntungan dari domba-domba yang digembalakan.

Baca Juga:  Peduli Iman Anak Vikjen KA Bersama Tim Sekami KA Rayakan Ekaristi Animasi Sekami di Paroki Manamas

Nampak kutipan Paus Fransiskus dari Nabi Yehezkiel sebagai berikut: Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman (Yehezkiel 34:3-4).

Pesan akhir dari Paus Fransiskus dari kisah Orang Samaria ialah hikmah tentang bagaimana gerak persaudaraan dimulai dari perjumpaan tatap muka dan diperluas menjadi perawatan yang terorganisir. Dari kisah Orang Samaria yang baik hati, kita dipanggil untuk pergi dan melakukan sesuatu (bdk Luk., 10:37). Filosofi pergi itu menjadi berdaya guna apabila kerapuhan orang-orang yang kita jumpai, dijadikan sebagai bagian dari kerapuhan kita. Karena itu, menurut Paus Fransiskus, kita memang diciptakan untuk suatu kepenuhan yang hanya dapat dicapai dalam cinta. Kita tidak dapat bersikap tak peduli pada orang yang menderita. Sikap peduli merupakan tanda kemanusiaan bagi Gereja bahwa tak seorang pun dapat dibuang dan ditinggalkan.

Pada akhirnya, Paus Fransiskus mengajak umat Kristiani untuk belajar dari Bunda Maria sebagai Bunda Kesehatan bagi orang sakit. Dalam semangat Bunda Maria, Paus Fransiskus mempercayakan semua yang sakit kepada seluruh umat Kristiani. Puji Tuhan; kepercayaan itu disertai dengan berkat tulus dari Bapa Suci.

***LopoNTT.com***

 

 

 

 

 

Penulis : RD. Yudel Neno. Imam Keuskupan Atambua. Kini bertugas di Paroki Santa Filomena Mena

  • Bagikan