Refleksi Kritis Dibalik Perilaku Membunuh dan Bunuh Diri

  • Bagikan
Refleksi Kritis di Balik Perilaku Membunuh dan Bunuh Diri
Sumber Gambar : manado.tribunews.com
…karena itu tindakan membunuh merupakan tindakan merampas kehidupan dan menghilangkan jejak Allah dalam hidup manusia

Tentu tidak mewakili Gereja Katolik untuk menyampaikan refleksi kritis ini. Apa yang ditulis ini, lebih tepat sebagai bagian kecil dari apa yang dikehendaki oleh Gereja tentang bagaimana dan mengapa kita harus menjada kehidupan yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada kita.

Ada beberapa dokumen resmi Gereja, yang dapat saya sebutkan sebagai landasan untuk membuat refleksi kritis. Inti dari dokumen-dokumen tersebut adalah menolak perilaku membunuh dan bunuh diri dalam bentuk apapun, dengan alasan utama ialah melakukannya sama  dengan menolak Allah sebagai sumber kehidupan, sementara Allah adalah sumber kehidupan.

Dokumen Katekismus Gereja Katolik Artikel 2280

Tiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya. Allah memberikan hidup  kepadanya. Allah ada dan tetap merupakan Tuhan kehidupan yang tertinggi. Kita berkewajiban untuk berterima kasih karena itu, dan mempertahankan hidup demi kehormatan-Nya dan demi keselamatan jiwa kita. Kita hanya pengurus, bukan pemilik kehidupan, dan Allah mempercayakannya itu kepada kita. Kita tidak mempunyai kuasa apa pun atasnya.

Refleksi Kritis 

Hidup adalah anugerah tertinggi Allah, karena Allah adalah Tuhan tertinggi kehidupan. Hidup manusia mengandung misteri penciptaan, karena itu tindakan membunuh merupakan tindakan merampas kehidupan dan menghilangkan jejak Allah dalam hidup manusia.

Manusia adalah makhluk hidup tetapi bukan pemilik kehidupan. Manusia bukan pemilik kehidupan karena sejak ia diciptakan, Allah-lah yang menghembuskan nafas hidupNya. Itu berarti mematikan nafas hidup manusia sama dengan menghentikan Roh Allah berkarya dalam diri manusia. Sementara martabat manusia menjadi ada, justru karena Roh Allah yang berkarya itu.

Manusia bermartabat karena keutuhan pribadi yang dijiwai oleh nafas kehidupan Allah. Karena itu, memutuskan nafas hidup manusia adalah cara yang paling brutal untuk memutuskan hubungan dengan Allah sebagai Tuhan tertinggi atas kehidupan.

Sejak manusia diciptakan, ia karuniakan kuasa untuk memelihara kehidupan. Garis tanggung jawab ini sungguh mulia dikala manusia sadar dan terpanggil untuk mencegah niat bunuh diri. Kesadaran ini menandaskan suatu situasi keterpanggilan manusia untuk mempertanggungjawabkan hidupnya sebagai rahmat, dengan cara mempertahankan dan meningkatkan hidupnya demi keselamatan diri dan keselamatan umat manusia pada umumnya.

Sebagai makhluk ciptaan, kita diajak untuk segera sadar bahwa kita pengurus bukanlah pemilik kehidupan. Karena itu, kita tidak memiliki kuasa sedikitpun untuk memusnahkan kehidupan. Kisah pembunuhan Kain terhadap Habel dalam Perjanjian Lama merupakan tindakan yang tidak boleh ditiru apalagi dijadikan sebagai dasar untuk membunuh.

Dokumen Katekismus Gereja Katolik Artikel 2281

Bunuh diri bertentangan dengan kecondongan kodrati manusia supaya memelihara dan mempertahankan kehidupan. Itu adalah pelanggaran berat terhadap cinta diri yang benar. Bunuh diri juga melanggar cinta kepada sesama, karena merusak ikatan solidaritas dengan keluarga, dengan bangsa, dan dengan umat manusia, kepada siapa kita selalu mempunyai kewajiban. Akhirnya bunuh diri bertentangan dengan cinta kepada Allah yang hidup.

Refleksi Kritis

Manusia kodratnya adalah makhluk ciptaan yang hidup. Ia memiliki kecondongan kodrati untuk mempertahankan kehidupannya sebagai aktivitas pemuliaan terhadap Allah, yang adalah Sumber kehidupan sejati.

Kecondongan kodrati yang dimaksud merupakan sikap cinta diri yang benar. Cinta diri tidak berarti ingat diri dalam arti negatif. Karena Allah adalah Sumber cinta, maka tindakan manusia mempertahankan dan memelihara diri dan hidupnya merupakan cinta diri yang benar. Cinta diri yang benar ini direfleksikan sebagai komitmen iman, sejauh Allah  ditempatkan sebagai kepala kerangka permenungan.

Kecondongan kodrati manusia untuk mempertahankan hidup dan memeliharanya merupakan hukum kodrati manusia bahwa hidupnya mesti dihayati sebagai makhluk ciptaan Tuhan dengan memanfaatkan akal budi dan hati nurani sebagai kekuatan untuk menangkal segala niat buruk yang berujung pada tindakan membunuh.

Hukum kodrat menyatakan pengetahuan moral yang mendasar, yang memungkinkan manusia melalui akal budi, membeda-bedakan antara yang baik dan yang buruk, antara kebenaran dan kebohongan (KGK, art., 1954) “Hukum kodrat tidak lain dari terang akal budi yang diletakkan Allah di dalam diri kita (KGK, 1955).

Allah mengaruniakan akal budi bagi manusia, supaya dengan kekuatan itu, dapat mencegah dan terarah ke kehidupan yang lebih baik. Allah mengaruniakan kehidupan bagi manusia. Kehidupan itu perlu dijaga dan dirawat. Dan kehidupan itupun tidak dijalaninya sendirian. Karena manusia ditentukan oleh kehidupannya, maka manusia harus sadar bahwa dirinya tidak hidup sendiri. Maka tindakan bunuh diri tidak hanya bercorak malapetaka bagi si pelaku tetapi juga merusak cita rasa solidaritas dengan sesama dan keluarga, bangsa dan seluruh umat manusia dan pada akhirnya bertentangan dengan cinta kepada Allah yang hidup.

Dokumen Katekismus Gereja Katolik Artikel 2282

Kalau bunuh diri dilakukan dengan tujuan untuk memakainya sebagai contoh-terutama bagi orang-orang muda – maka itu pun merupakan satu skandal yang besar. Bantuan secara sukarela dalam hal bunuh diri, melawan hukum moral. Gangguan psikis yang berat, ketakutan besar, atau kekhawatiran akan suatu musibah, akan suatu kesusahan, atau suatu penganiayaan, dapat mengurangi tanggung jawab pelaku bunuh diri.

Refleksi Kritis

Hukum moral adalah karya kebijaksanaan ilahi. Karena merupakan karya kebijaksaan illahi, maka hukum moral sebetulnya merupakan pedagogi Allah untuk menentukan jalan-jalan dan peraturan tingkah laku bagi manusia, yang mengantar menuju kebahagiaan yang dijanjikan; Ia melarang jalan-jalan menuju kejahatan, yang menjauhkan dari Allah dan dari kasih-Nya. Ia serentak teguh dalam perintah-perintahNya dan memikat dalam perjanjian-Nya (KGK, art. 50). Poros dari hukum moral ialah kerinduan akan Allah dan takluk kepada-Nya sebagai sumber dan hakim segala kebaikan, demikian juga pengertian tentang sesama manusia sebagai makhluk yang setingkat (KGK, art. 1955).

Jelaslah bahwa membunuh dan bunuh diri sama sekali tidak dapat dan tidak boleh dijadikan sebagai sarana untuk mencapai kesaksian iman, apalagi untuk menunjukkan posisi moral. Bunuh diri sebagai sarana merupakan suatu skandal berat atau skandal moral karena melawan kehidupan sebagai hukum moral tertinggi. Bantuan sukarela membunuh pun dipandang sebagai persekongkolan bengis sembari melawan hukum moral dengan pendasaran bahwa hidup sesama, sama martabatnya dengan hidup manusia pada umumnya.

Secara manusiawi, perasaan takut akan akibat dari tindakan membunuh mesti ditanamkan dalam diri setiap orang. Inilah yang saya istilahkan dengan negatif antisipatif. Artinya perasaan ketakutan mesti digunakan sebagai peluang antisipatif untuk mencegah niat dan tindakan bunuh diri.

Dokumen Katekismus Gereja Katolik Artikel 2283

Orang tidak boleh kehilangan harapan akan keselamatan abadi bagi mereka yang telah mengakhiri kehidupannya. Dengan cara yang diketahui Allah, Ia masih dapat memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat supaya diselamatkan. Gereja berdoa bagi mereka yang telah mengakhiri kehidupannya.

Refleksi Kritis

Entah apapun persoalan kasuistik yang menodai hidup umat manusia, keyakinan akan karya keselamatan mesti tetap dilantunkan. Gereja dalam satu persekutuan, pada prinsipnya berdoa untuk mereka yang telah mengakhiri kehidupannya termasuk dengan cara yang paling tragis. Keyakinan ini mesti didahului oleh keyakinan bahwa karya keselamatan terjadi pada diri mereka, atas cara yang diketahui Allah dan atas cara itu pula, Allah masih dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat supaya diselamatkan.

Walaupun demikian, keyakinan atau harapan akan keselamatan itu bukanlah sebuah legitimasi atas merajalelanya tindakan membunuh dan bunuh diri. Lebih tegasnya, prinsip penyelamatan tidak boleh menjadikan Allah sebagai Pribadi yang karena belas kasihanNya, lalu keselamatanNya diandaikan secara otomatis bagi mereka yang melakukan tindakan bengis membunuh.

Gereja Katolik memang tidak mengakui otomatisme rahmat. Dan karena itu jelas bahwa membunuh dan bunuh diri, merupakan dosa berat, karena menolak kehidupan yang bersumber dari Allah, dan itu sama dengan menolak Allah. Dan Allah bukan tidak  mau atau tidak mampu, tetapi memang dalam sikap membunuh atau bunuh diri, di sana Allah memang tidak hadir dalam situasi itu.

Dokumen Gaudium et Spes Artikel 27 tentang Sikap Hormat Terhadap Pribadi Manusia

……….Selain itu apa saja yang berlawanan dengan kehidupan sendiri, misalnya bentuk pembunuhan yang mana pun juga, penumpasan suku, pengguguran, eutanasia atau bunuh diri yang disengaja; apa pun yang melanggar keutuhan pribadi manusia, seperti pemenggalan anggota badan, siksaan yang ditimpakan pada jiwa maupun raga, usaha-usaha paksaan psikologis; apa pun yang melukai martabat manusia,…… memang merupakan perbuatan yang keji. Dan sementara mencoreng peradaban manusiawi, perbuatan-perbuatan itu lebih mencemarkan mereka yang melakukannya, dari pada mereka yang menanggung ketidak-adilan, lagi pula sangat berlawanan dengan kemuliaan Sang Pencipta.

Refleksi Kritis

Manusia adalah pribadi yang utuh. Keutuhan ini menunjuk pada Penciptanya yang utuh pula. Karena itu, menghargai keutuhan pribadi manusia merupakan tindakan pemuliaan terhadap Sang Pencipta. Dalam arti ini, segala perilaku yang mencoreng martabat manusia juga merupakan pencorengan terhadap Sang Pencipta.

Dan perilaku membunuh, lebih-lebih karena meniadakan Allah dalam apa yang seharusnya merupakan milikNya.

Membunuh merupakan perbuatan keji karena melukai martabat manusia sebagia makhluk ciptaan dan mencoreng peradaban manusiawi sebagai makhluk kasih dan makhluk solider. Membunuh merupakan tindakan mencemarkan mereka yang melakukannya dengan pendasaran bahwa akal budi dan hati nurani yang dikaruniakan kepadanya sejak diciptakan, merupakan senjata kritis untuk membedah dan menyelesaikan segala persoalan.

Pada akhirnya, membunuh berlawanan dengan kemuliaan Sang Pencipta sebagaimana Ia telah mencurahkan kemuliaan tenaga dan nafas-Nya ketika manusia diciptakan.

Penutup

Membunuh dengan motif apapun, alasan apapun, cara apapun, dalam situasi mendesak sekalipun tetap Gereja tolak. Gereja menolak tetapi doa Gereja untuk memohonkan pengampunan kepada mereka yang telah melakukan tindakan membunuh dan bunuh diri terus dilakukan dan dihayati sebagai spiritualitas sebagaimana Allah datang untuk menyelamatkan semua orang yang berdosa (harapan). Dan apabila keselamatan itu terjadi, maka kita tahu bahwa bagi manusia itu mustahil, tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil.* (Lopo NTT)

  • Bagikan