Sikap Sabar Sebagai Ruang Untuk Bertahan Bagi Orang Sakit

  • Bagikan

Setiap kita pasti pernah sakit. Sakit apa saja. Sakit dalam kondisi sementara menunjuk pada orang yang memang sementara sakit. Sakit dalam kondisi berkala, menunjuk pada orang yang mengidap penyakit tertentu. Dan untuk sembuh butuh waktu.

Orang yang mengidap penyakit tertentu, tampak luar bisa sehat-sehat saja, namun kondisi dalamnya sebetulnya butuhkan pengobatan serius.

Bagi mereka yang mengidap penyakit serius, jika tidak telaten berobat, dalam perjalanan waktu, kondisi mereka bakal makin parah dari sebelumnya. Kalau makin parah, dan minim finansial, pengobatan menjadi sesuatu yang jauh dari harapan.

Beberapa saat lalu Saya mampir ke RSUD Kefamenanu. Di sana saya perhatikan, banyak orang sakit di sana. Tidak sedikit juga orang sehat yang hadir di sana. Mereka ialah petugas, penjaga dan pengunjung.

Jika ingin bertolak dari Kitab Suci, di sana ditemukan pengalaman sakit Ayub yang kontroversial. Ayub yang saleh itu menderita sakit serius, dan dalam waktu yang lama.

Dari pengalaman sakit Ayub yang saleh itu, penyertaan Allah nampaknya diragukan. Ayub yang saleh, semestinya mendapat berkat yang lebih dari Allah. Itu artinya sakit yang diderita Ayub, sebetulnya tidak layak bagi Ayub. Jika layak, itu pertanda Allah mulai menjauh dari Ayub. Jika Allah menjauh, maka sebetulnya kesalehan tidak pantas bagi Ayub. Karena ternyata, saleh tidak ada faedahnya.

Baca Juga:  Pesan Paus Fransiskus pada Hari Orang Sakit se-Dunia ke-XXXI disertai Komentar-Komentar Seperlunya

Ayub mengalami beberapa situasi pergumulan dalam kondisi sakit serius. Yang pertama, pergumulannya tentang Allah Maha Penyayang, yang dihadapinya dengan kondisi sakit serius dan parah.

Yang kedua, pergumulannya menghadapi teman-temannya yang selalu datang menggodanya untuk “melepaskan” Allah sebagai sosok yang tidak layak dipercaya.

Yang ketiga, bagaimana ia tetap bertahan dalam sakit, namun juga harus tetap percaya kepada Allah sebagai kekuatan yang senantiasa menyertai.

Tidak heran, apa yang terjadi pada Ayub, seringkali kita alami. Kondisi sakit serius dan kritis yang diderita seorang bayi, seorang kakek, seorang nenek, menarik kita ke dalam refleksi pergumulan Ayub. Dari lemahnya kondisi mereka, pertanyaan tentang keadilan Allah, dapat saja muncul.

Melihat seorang bayi yang menjerit kesakitan tanpa ia sendiri mampu menunjukkan tempat di mana persisnya rasa sakit, merupakan suatu kondisi yang dapat mengerdilkan kehadiran Allah dalam iman kepercayaan. Dapat saja bahwa Allah tidak adil karena ia tidak dapat menjauhkan atau Ia membiarkan satu kenyataan sakit yang dialami si bayi.

Baca Juga:  Pesan Paus Fransiskus pada Hari Orang Sakit se-Dunia ke-XXXI disertai Komentar-Komentar Seperlunya

Godaan pemikiran seperti di atas dapat saja muncul. Wajar saja, jika kenyataan sakit dalam proses perawatan, nampaknya sulit peroleh kesembuhan melalui perawatan medis.

Jika perawatan medis tidak memadai, sementara keyakinan akan Allah; Sang Maha Penyembuh, memudar, maka sebetulnya kepada siapakah orang sakit harus bersandar dan menaruh harapan?

Sakit memiliki dimensi rohaninya. Dimensinya rohaninya ialah dalam pengalaman sakit, orang merindukan untuk sembuh. Rindu akan kesembuhan menempatkan sakit sebelumnya dalam satu ruang bertahan.

Karena orang sakit memiliki kerinduan untuk sembuh, maka selama ia sakit, segala upaya pasti dilakukan. Upaya itu, bagi orang beriman, upayanya yang tertinggi ialah mengharapkan kesembuhan yang datang dan terjadi oleh Pihak Allah.

Baca Juga:  Pesan Paus Fransiskus pada Hari Orang Sakit se-Dunia ke-XXXI disertai Komentar-Komentar Seperlunya

Merindukan kesembuhan yang terjadi dari Pihak Allah, membutuhkan sikap sabar. Bagi orang-orang sakit, sikap sabar adalah ruang bertahan baginya untuk menunggu kesembuhan yang terjadi oleh Pihak Allah.

Dalam kesabaran, tidak ada unsur paksaan. Allah tidak dapat ditempatkan dalam keinginan manusia sebagai sosok yang harus dipaksa-paksa dengan mengatasnamakan sifat belas kasihan-Nya yang segera, demi kepentingan manusia. Sebaliknya, kesabaran manusia tidak dapat dijadikan sebagai alasan bahwa Allah lamban mendatangi umat manusia.

Dalam kesabaran, keunggulan manusia diuji untuk mengharapkan kesembuhan dari Allah sebagai ekspresi beriman.

Pengalaman Ayub membuktikan kepada kita bahwa sakit pada prinsipnya merupakan sesuatu yang normal bagi fisik manusia.

Apabila sakit itu tiba pada situasi batas dan pada akhirnya nafas kehidupan harus terhenti, di situlah kondisi yang menuntun kita untuk memahami bahwa fisik ini tidak kekal di dunia.

Pada akhirnya, fisik ini harus beranjak dari kenyamanannya di dunia menuju kediamannya yang kekal.

Penulis : RD. Yudel Neno (Imam Keuskupan Atambua. Kini bertugas di Paroki Santa Filomena Mena).

  • Bagikan